Sunnah Membantu Istri di Rumah
Salah satu sunnah yang mungkin mulai ditinggalkan para suami adalah membantu istri dan pekerjaannya di rumah, semoga para suami bisa menerapkan sunnah ini walaupun hanya sedikit saja. Beberapa suami bisa jadi cuek terhadap pekerjaan istri di rumahnya apalagi istri pekerjaannya sangat banyak dan anak-anak juga banyak yang harus diurus dan dididik.
Merupakan kebiasaan dan sunnah Nabi ﷺ membantu pekerjaan istrinya di rumah.
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,
“Rasulullah ﷺ dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat” (HR Bukhari).
Hal ini merupakan sifat tawaadhu’ (rendah hati) Nabi ﷺ dan mencontohkannya pada manusia, padahal beliau adalah seorang pimpinan dan qadhi tertinggi kaum muslimin. Bisa jadi ada suami yang merasa diri menjadi rendah jika melakukan perbuatan dan pekerjaan rumah tangga karena ia adalah orang besar dan berkedudukan bahkan bos di tempat kerjanya.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini,
“Di antara akhlak mulia para nabi adalah tawaadhu’ dan sangat jauh dari suka bersenang-senang (bermewah-mewah) dan melatih diri untuk hal ini, agar mereka tidak terus-menerus berada pada kemewahan yang tercela (mewah tidak tercela secara mutlak).” (Fathul Bari kitab adab hal. 472)
Membantu istri bisa dilakukan dengan pekerjaan sederhana, terkadang membantu hal yang sederhana saja sudah membuat senang dan bahagia para istri, semisal menyapu emperan saja, mencuci piring dan lain-lainnya.
Dalam hadits lainnya, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau semisal mengangkat ember dan menjahit bajunya.
Urwah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember” (HR Ibnu Hibban)
Kamis, 28 Mei 2020
Jumat, 22 Mei 2020
MANFAAT MEMBAYAR ZAKAT FITRAH
MANFAAT MEMBAYAR ZAKAT FITRAH
⠀
Waki’ bin Al-Jarrah mengatakan, “Zakat fitrah untuk bulan Ramadhan itu seperti sujud sahwi ketika shalat. Zakat fitrah itu menutup kekurangan saat puasa sebagaimana sujud sahwi menutupi kekurangan shalat.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj dan Al-Majmu’, dinukil dari Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 2:96)
📔 Muhammad Abduh Tuasikal
⠀
Waki’ bin Al-Jarrah mengatakan, “Zakat fitrah untuk bulan Ramadhan itu seperti sujud sahwi ketika shalat. Zakat fitrah itu menutup kekurangan saat puasa sebagaimana sujud sahwi menutupi kekurangan shalat.” (Lihat Mughni Al-Muhtaj dan Al-Majmu’, dinukil dari Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafii, 2:96)
📔 Muhammad Abduh Tuasikal
DOAKAN ORANG TUA DI KAMPUNG
DOAKAN ORANG TUA DI KAMPUNG MESKI RAGA BELUM BISA BERJUMPA DENGANNYA
⠀
Pintu surga yang paling mudah dimasuki adalah pintu yang paling tengah yaitu berbakti kepada orang tua.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” [HR. Ahmad, Hasan)
⠀
Pintu surga yang paling mudah dimasuki adalah pintu yang paling tengah yaitu berbakti kepada orang tua.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.” [HR. Ahmad, Hasan)
Selasa, 19 Mei 2020
KHAWATIR PADA TEMPATNYA
KHAWATIR PADA TEMPATNYA
================
Persoalan rezeki; biaya hidup yang semakin mahal, kondisi keuangan yang begitu2 saja, karir pekerjaan yang seolah stuck, usaha yang sulit berkembang, cicilan hutang yang tak kunjung selesai, atau hal2 lain yang menjadi turunan2nya, seringkali menjadi topik besar yang kita khawatirkan.
Padahal tahukah Anda,
Sebuah riset menunjukkan bahwa orang-orang yang selalu terbebani dengan pikiran dan perasaan serba kekurangan, justru akan menghambat mereka untuk memiliki nasib yang lebih baik.
Karena alokasi energi otak terserap cukup besar untuk memikirkan kekurangan demi kekurangan itu dan habis sudah untuk bisa berpikir kreatif berupaya mengubah nasib menjadi lebih baik.
Riset menarik yang dilakukan oleh Eldar Shafir (Professor ekonomi dari Yale University) dan Sendhil Mullainathan (Guru besar Ekonomi dari Harvard University) ini menjawab mengapa orang2 kaya semakin kaya, orang2 miskin tetap miskin, dan orang2 yang kekurangan akan cenderung bertahan selamanya dalam kondisi seperti itu.
==================
Sahabat-sahabat fillah,
Kesalahan terbesar dalam hidup adalah mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin, namun mengabaikan apa yang belum dijamin.
Dalam urusan rezeki, mestinya tak perlulah kita banyak2 khawatir. Tenangkanlah hati dan istirahatkanlah diri kita dari berlelah-lelah memikirkan rezeki.
Karena hewan melata yang tidak punya alat gerak sekalipun berada dalam jaminanNya. Apalah lagi manusia yang punya sebaik-baik dan seindah-indahnya bentuk. Alokasikan fokus pikiran dan perasaan kita pada tempat yang semestinya.
Yang perlu kita khawatirkan adalah seberapa sungguh2 kita dalam taat.
Bukankah tugas kita hanya taat?
Petunjuk dan bimbingan datang dari taat; ditunjukkan jalan2 rezeki terbaik, dibukakan peluang2 yang tak terpikirkan sebelumnya, diperlihatkan solusi yang tidak terduga, dipertemukan dengan orang2 yang tepat, dituntun tiap langkah dalam setiap pengambilan keputusan, semua itu datangnya dari taat.
Tanpa taat, dunia datang memperbudak.
Dengan taat, dunia datang tertunduk hina.
Sekali lagi,
Yang perlu kita khawatirkan adalah seberapa sungguh2 kita dalam taat.
Bukankah tugas kita hanya taat?
Rezeki sudah dijamin, yang belum dijamin adalah keberkahan yang menyertainya. Keberkahan yang menjadikan semuanya tidak sia-sia.
Rezeki sudah dijamin, yang belum dijamin adalah nasib kita setelah kehidupan ini, kehidupan yang lebih panjang dan lebih berat. Jannah? Atau Naar?
Sumber : Sonny Abi Kim
================
Persoalan rezeki; biaya hidup yang semakin mahal, kondisi keuangan yang begitu2 saja, karir pekerjaan yang seolah stuck, usaha yang sulit berkembang, cicilan hutang yang tak kunjung selesai, atau hal2 lain yang menjadi turunan2nya, seringkali menjadi topik besar yang kita khawatirkan.
Padahal tahukah Anda,
Sebuah riset menunjukkan bahwa orang-orang yang selalu terbebani dengan pikiran dan perasaan serba kekurangan, justru akan menghambat mereka untuk memiliki nasib yang lebih baik.
Karena alokasi energi otak terserap cukup besar untuk memikirkan kekurangan demi kekurangan itu dan habis sudah untuk bisa berpikir kreatif berupaya mengubah nasib menjadi lebih baik.
Riset menarik yang dilakukan oleh Eldar Shafir (Professor ekonomi dari Yale University) dan Sendhil Mullainathan (Guru besar Ekonomi dari Harvard University) ini menjawab mengapa orang2 kaya semakin kaya, orang2 miskin tetap miskin, dan orang2 yang kekurangan akan cenderung bertahan selamanya dalam kondisi seperti itu.
==================
Sahabat-sahabat fillah,
Kesalahan terbesar dalam hidup adalah mengkhawatirkan apa yang sudah dijamin, namun mengabaikan apa yang belum dijamin.
Dalam urusan rezeki, mestinya tak perlulah kita banyak2 khawatir. Tenangkanlah hati dan istirahatkanlah diri kita dari berlelah-lelah memikirkan rezeki.
Karena hewan melata yang tidak punya alat gerak sekalipun berada dalam jaminanNya. Apalah lagi manusia yang punya sebaik-baik dan seindah-indahnya bentuk. Alokasikan fokus pikiran dan perasaan kita pada tempat yang semestinya.
Yang perlu kita khawatirkan adalah seberapa sungguh2 kita dalam taat.
Bukankah tugas kita hanya taat?
Petunjuk dan bimbingan datang dari taat; ditunjukkan jalan2 rezeki terbaik, dibukakan peluang2 yang tak terpikirkan sebelumnya, diperlihatkan solusi yang tidak terduga, dipertemukan dengan orang2 yang tepat, dituntun tiap langkah dalam setiap pengambilan keputusan, semua itu datangnya dari taat.
Tanpa taat, dunia datang memperbudak.
Dengan taat, dunia datang tertunduk hina.
Sekali lagi,
Yang perlu kita khawatirkan adalah seberapa sungguh2 kita dalam taat.
Bukankah tugas kita hanya taat?
Rezeki sudah dijamin, yang belum dijamin adalah keberkahan yang menyertainya. Keberkahan yang menjadikan semuanya tidak sia-sia.
Rezeki sudah dijamin, yang belum dijamin adalah nasib kita setelah kehidupan ini, kehidupan yang lebih panjang dan lebih berat. Jannah? Atau Naar?
Sumber : Sonny Abi Kim
Minggu, 17 Mei 2020
SEMANGAT PARA SALAF
SEMANGAT PARA SALAF DALAM MENCARI LAILATUL QADR
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
لـو كانـت ليلـة القـدر بالسنـة ليلـة واحـدة لقمـت السنـة حتى أدركهـا فمـا بالـك بعشـر ليـال
"Jika seandainya Lailatul Qadar itu harus dicari sepanjang tahun, maka niscaya aku akan menghidupkan seluruh (malam) dalam satu tahun sehingga aku bisa mendapatkan nya. Lalu bagaimana pendapatmu apabila malam Lailatul Qadar terjadi hanya pada 10 hari (terakhir di bulan Ramadhan)."
Bada'iul Fawaid, halaman 5
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
لـو كانـت ليلـة القـدر بالسنـة ليلـة واحـدة لقمـت السنـة حتى أدركهـا فمـا بالـك بعشـر ليـال
"Jika seandainya Lailatul Qadar itu harus dicari sepanjang tahun, maka niscaya aku akan menghidupkan seluruh (malam) dalam satu tahun sehingga aku bisa mendapatkan nya. Lalu bagaimana pendapatmu apabila malam Lailatul Qadar terjadi hanya pada 10 hari (terakhir di bulan Ramadhan)."
Bada'iul Fawaid, halaman 5
Sabtu, 16 Mei 2020
TIDAK ADA KEBAIKAN
Ali bin Abi Thalib mengatakan :
وَلَا خَيْرَ فِيْ قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيْها
Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran jika tidak ada tadabbur (usaha untuk memahami) di dalamnya.
(Sunan ad-Darimi no 306)
Tujuan Al-Quran diturunkan itu untuk direnungi kandungannya dan diamalkan.
Membaca Al-Quran itu sarana untuk tadabbur (merenungi pesan kandungan Al-Quran).
Membaca tanpa tadabbur adalah melaksanakan sarana tanpa mewujudkan tujuan.
Kiat praktis agar bisa tadabbur adalah:
❶. Paham bahasa Arab atau
❷. Membaca terjemahannya atau tafsirnya setelah selesai membaca bagian dari Al-Quran yang ingin dibaca.
Meski demikian, membaca Al-Qur'an itu tetap berpahala meski orang yang membacanya tidak paham isi yang dibaca.
Perkataan Ali di atas itu motivasi untuk berusaha membaca Al-Quran dan mengetahui kandungan bacaan, bukan untuk menggembosi orang yang semangat membaca Al-Quran.
Penulis : Ustadz Aris Munandar SS M.P.I حفظه الله تعالى
Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta
PENGEJAR DUNIA
PENGEJAR DUNIA
Indah dan melenakan. Itulah dunia. Karena itu, tak sedikit yang sengsara dibuatnya. Ada yang celaka, ada juga yang terhina. Andaikata ada yang bahagia karena dunia, itu hanya sementara. Karenanya, kita harus senantiasa waspada. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan menjadi korban berikutnya.
Indah dan melenakan. Itulah dunia. Karena itu, tak sedikit yang sengsara dibuatnya. Ada yang celaka, ada juga yang terhina. Andaikata ada yang bahagia karena dunia, itu hanya sementara. Karenanya, kita harus senantiasa waspada. Jangan sampai terlena. Jika tidak, kita akan menjadi korban berikutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)





